Layanan Telematika, Teknologi Wireless, dan Middleware Telematika

Monday, November 26, 2012

Telematika di Indonesia memiliki banyak sekali jenis layanannya diantaranya: 

1. Layanan Informatika di Bidang Informasi 

Pada hakikatnya, penggunaan telematika dan aliran informasi harus berjalan sinkron dan penggunaanya harus ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,termasuk pemberantasan kemiksinan dan kesenjangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, teknologi telematika juga harus diarahkan untuk menjembatani kesenjangan politik dan budaya serta meningkatkan keharmonisan di kalangan masyarakat. Salah satu fasilitas bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yaitu melalui internet dan telefon. Ada baiknya bila fasilitas publik untuk mendapatkan informasi terus dikembangkan, seperti warnet dan wartel. Warung Telekomunikasi dan Warung Internet ini secara berkelanjutan memperluas jangkauan pelayanan telepon dan internet, baik di daerah kota maupun desa, bagi pelanggan yang tidak memiliki akses sendiri di tempat tinggal atau di tempat kerjanya. Oleh karena itu langkah-langkah lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan jangkauan dan kandungan informasi pelayanan publik, memperluas pelayanan kesehatan dan pendidikan, mengembangkan sentra-sentra pelayanan masyarakat perkotaan dan pedesaan, serta menyediakan layanan "e-commerce" bagi usaha kecil dan menengah, sangat diperlukan. Dengan demikian akan terbentuk Balai-balai Informasi. Untuk melayani lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh masyarakat.  

2. Layanan Informatika di Bidang Keamanan 

Layanan informatika juga dapat diaplikasikan di bidang keamanan. Salah satu contohnya adalah sistem yang telah diterapkan oleh Polda Jatim yang memanfaatkan TI dalam rangka meningkatkan pelayanan keamanan terhadap masyarakat yaitu dengan membuka layanan pengaduan atau laporan dari masyarakat melalui SMS dengan kode akses 1120. Selain itu juga telah dilaksanakan sistem online untuk pelayanan di bidang Lalu Lintas. Polda Jatim memiliki website di http://www.jatim.polri.go.id, untuk bisa melayani masyarakat melalui internet. Dengan sistem yang diterapkan ini polisi dapat dengan mudah mengontrol keamanan serta dapat menerima masukan-masukan dari masyrakat sehingga kinerja kepolisian akan menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Namun seiring dengan berkembangnya telematika diharapkan juga dapat membentuk ketahanan dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dan kejahatan baru yang timbul sejalan dengan perkembangan telematika. 

3. Layanan Context Aware dan Event-Based Context Awareness.

Adalah kemampuan layanan network untuk mengetahui berbagai konteks, yaitu kumpulan parameter yang relevan dari pengguna (user) dan penggunaan network itu, serta memberikan layanan yang sesuai dengan parameter-parameter itu. Beberapa konteks yang dapat digunakan antara lain lokasi user, data dasar user, berbagai preferensi user, jenis dan kemampuan terminal yang digunakan user. Tiga hal yang menjadi perhatian sistem context-aware menurut Albrecht Schmidt, yaitu: a. The acquisition of context Hal ini berkaitan dengan pemilihan konteks dan bagaimana cara memperoleh konteks yang diinginkan, sebagai contoh : 
  • Pemilihan konteks lokasi, dengan penggunaan suatu sensor lokasi tertentu (misalnya: GPS) untuk melihat situasi atau posisi suatu lokasi tersebut.
  • The abstraction and understanding of context Pemahaman terhadap bagaimana cara konteks yang dipilih berhubungan dengan kondisi nyata, bagaimana informasi yang dimiliki suatu konteks dapat membantu meningkatkan kinerja aplikasi, dan bagaimana tanggapan sistem dan cara kerja terhadap inputan dalam suatu konteks.
  • Application behaviour based on the recognized context Terakhir, dua hal yang paling penting adalah bagaimana pengguna dapat memahami sistem dan tingkah lakunya yang sesuai dengan konteks yang dimilikinya serta bagaimana caranya memberikan kontrol penuh kepada pengguna terhadap sistem.
 4. Layanan Informatika di Bidang Transportasi 

Telematika transportasi adalah cabang teknologi yang mengintegrasikan telekomunikasi dan software engineering di bidang sistem transportasi. Saat ini bidang ini telah memainkan peran penting dalam manajemen efektif jaringan infrastruktur transportasi dan menyediakan kolaborasi optimum antara berbagai jenis tipe transportasi, atau yang dikenal dengan transportasi multimodal (multimodal transport). Sistem transportasi cerdas, mendukung dan menyediakan berbagai jenis layanan transportasi ke institusi dan pribadi. Karena, kategori user di dalam layanan telematika transportasi adalah tidak homogen, maka berbagai jenis layanan harus disiapkan penyelenggara jasa. User2 tersebut adalah sbb: 
  • Sistem Telematika Trafik.
  • Sistem Telematica Vehicle pada strategi kendali (Hybrid electric vehicle) cerdas.
  • Space Vector Modulation = Modulasi Vector Ruang (RVM).
  • Matrix converter 
5. Layanan Telematika di Bidang Komunikasi 

Yang termasuk dalam telematika ini adalah layanan dial up ke Internet maupun semua jenis jaringan yang didasarkan pada sistem telekomunikasi untuk mengirimkan data. Internet sendiri merupakan salah satu contoh telematika. Di Indonesia, pengaturan dan pelaksanaan mengenai berbagai bidang usaha yang bergerak di sektor telematika diatur oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika. Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika (disingkat DitJen APTEL) adalah unsur pelaksana tugas dan fungsi Departemen di bidang Aplikasi Telematika yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. 
Fungsi Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika (disingkat DitJen APTEL) meliputi:
  • Penyiapan perumusan kebijakan di bidang e-government, e-business, perangkat lunak dan konten, pemberdayaan telematika serta standardisasi dan audit aplikasi telematika
  • Pelaksanaan kebijakan di bidang e-government, e-business, perangkat lunak dan konten, pemberdayaan telematika serta standardisasi dan audit aplikasi telematika.
  • Perumusan dan pelaksanaan kebijakan kelembagaan internasional di bidang e-government, e-business, perangkat lunak dan konten, pemberdayaan telematika serta standardisasi dan audit aplikasi telematika.
  • Penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang e-government, e-business, perangkat lunak dan konten, pemberdayaan telematika serta standardisasi dan audit aplikasi telematika.
  • Pembangunan, pengelolaan danppengembangan infrastruktur dan manajemen aplikasi sistem informasi pemerintahan pusat dan daerah,
  • Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi.
  • Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika. 
 

Teknologi Wireless 

Perkembangan teknologi wireless (nirkabel) dalam era komunikasi data yang semakin cepat dan mengglobal ini telah membawa masyarakat melewati beberapa tahapan pengembangan teknologi sekaligus. Generasi pertama (1G) pengembangan teknologi nirkabel ditandai dengan pengembangan sistem analog dengan kecepatan rendah (low speed) dan suara sebagai obyek utama. Dua contoh dari pengembangan teknologi nirkabel pada tahap pertama ini adalah NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Analog Mobile Phone System).

Generasi kedua (2G) pengembangan teknologi nirkabel dijadikan standar komersial dengan format digital, kecepatan rendah - menengah. Contoh: GSM dan CDMA2000 1xRTT. Sebelum masuk ke pengembangan teknologi Generasi ketiga (3G), banyak pihak sering menyisipkan satu tahap pengembangan, Generasi 2,5 (2,5G) yaitu teknologi komunikasi data wireless secara digital, kecepatan menengah (hingga 150 Kbps). Teknologi yang termasuk kategori 2,5 G adalah layanan berbasis data seperti GPRS (General Packet Radio Service) dan EDGE (Enhance Data rate for GSM Evolution) pada domain GSM dan PDN (Packet Data Network) pada domain CDMA. 

Sedangkan tahap pengembangan selanjutnya adalah Generasi ketiga, generasi digital kecepatan tinggi, yang mampu mentransfer data dengan kecepatan tinggi (high-speed) dan aplikasi multimedia, untuk pita lebar (broadband). Contoh: W-CDMA (atau dikenal juga dengan UMTS) dan CDMA2000 1xEV-DO.
 
Generasi berikutnya yang merupakan pengembangan dari 3G adalah 4G (Generasi keempat). Nama resmi dari teknologi 4G ini menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) adalah "3G and beyond". Sebelum 4G, High-Speed Downlink Packet Access (HSDPA) yang kadangkala disebut sebagai teknologi 3,5G telah dikembangkan oleh WCDMA sama seperti EV-DO mengembangkan CDMA2000. HSDPA adalah sebuah protokol telepon genggam yang memberikan jalur evolusi untuk jaringan Universal Mobile Telecommunications System (UMTS) yang akan dapat memberikan kapasitas data yang lebih besar (sampai 14,4 Mbit/detik arah turun).

 Di negara kita, kita dapat mengikuti secara sederhana perkembangan teknologi ini, mulai dari teknologi 1G berupa telepon analog/PSTN yang menggunakan seluler. Sementara teknologi 2G, 2.5G, dan 3G merupakan ISDN. Indonesia pada saat ini sebenarnya baru saja memasuki dan memulai tahap 3.5G atau yang biasa disebut sebagai HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) yang mampu memberikan kecepatan akses hingga 3.6 Mb/s (termasuk koneksi pita lebar - broadband connection). Berkaitan dengan teknologi 4G, SIP adalah protokol inti dalam internet telephony yang merupakan evolusi terkini dari Voice over Internet Protocol maupun Telephony over Internet Protocol.


Middleware Telematika


Apakah middleware itu ?? bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, middleware memiliki arti “perangkat tengah”, tetapi dari hasil browsingan yang telah saya lakukan. Middleware adalah relatif baru komputasi Selain lansekap. Itu populer pada tahun 1980-an sebagai solusi untuk masalah bagaimana menghubungkan aplikasi baru dengan sistem warisan yang lebih tua, meskipun system tersebut telah digunakan sejak 1968. Hal ini juga memfasilitasi pengolahan terdistribusi, hubungan antara beberapa aplikasi untuk membuat aplikasi yang lebih besar, biasanya melalui jaringan Selain itu middleware mengizinkan sesuatu aplikasi yang dijalankan pada platform yang berlainan berhubung di antara satu sama lain. Middlware mengizinkan membangun hubungan untuk tidak bergantung kepada suatu jenis rangkaian protokol, sistem pengoperasian dan peralatan. Jenis-jenis Middleware :
  1.  HM (Homegrown Middleware)
  2. RPC (Remote Procedure Calls)
  3. ORB (Object Request Brokers)
  4. MOM (Message Oriented Middleware)
  5. TPM (Transaction Processing Monitors) 
Cara-Cara Memilih Middleware , Apabila hendak memilih sesuatu middleware, seseorang itu haruslah berpedoman kepada faktor-faktor berikut:
  1. Kegunaan
  2. Pengaturan skalaan
  3. Keselamatan
  4. Keserasian
  5. Pengaturan set 

Referensi : 
http://telematika.co.id/
http://www.polri.go.id/ 
http://beritanet.com/Literature/Kamus-Jargon/Teknologi-Wireless-1G-2G-3G-4G.html 
http://ifajarwidi.blogdetik.com/2009/08/http://alliskind.blogspot.com/2009/12/middleware-telematika.html Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Definisi, Perkembangan, dan Trend Kedepan Telematika

Sunday, October 28, 2012

1. Definisi Telematika 

Pada mulanya, istilah Telematika dikenal dalam bahasa Perancis yaitu Telematique, yang kemudian berkembang menjadi istilah umum di Eropa. Selanjutnya, Telematika/ Telematiks diartikan untuk memperlihatkan pertemuan jaringan komunikasi dengan teknologi informasi. Perkembangan makna telematics menjadi singkatan dari “Telecomunications and Informatics“, yang merupakan perpaduan konsep Computing and Communication. Dewasa ini, istilah Telematika memperlihatkan konvergensi antara Telekomunikasi, Media dan Informatika. Konvergensi pada telematika merupakan penyelenggaraan sistem elektronik yang berbasis teknologi digital. Akibat dari perkembangan yang luar biasa, istilah telematika berkembang menjadi istilah Teknologi Informatika (TI), Information & Communication Technologies (ICT).

  2. Cyber – Cyberspace – Cibernetic – Cyber Law – Hukum Telematika 
Keberadaan Telematika, berkaitan dengan perkembangan internet yang pada awalnya memberikan dunia baru bagi masyarakat dunia. Dunia baru yang seakan-akan ditemukan tersebut bernama Cyberspace. Istilah Cyberspace menjadi populer setelah istilah tersebut digunakan dalam novel science fiction, karya William Gibson. Cyberspace menggambarkan suatu halusinasi adanya alam lain yang mempertemukan teknologi telekomunikasi dan informatika, yang seakan-akan terdapat ruang dalam medium Cyber. Asal usul kata Cyber diartikan sebagai kawat listrik. Cyberspace dapat diartikan sebagai jaringan komputer mahabesar (gigantic network) tanpa adanya penguasa tunggal mutlak, tanpa ada satu pun hukum suatu negara yang berlaku. Cyberspace merupakan medium komunikasi global yang didasarkan atas kebebasan berinformasi (freedom of information) dan kebebasan berkomunikasi (free flow of information), keberadaan alam yang baru ini seakan-akan menjadi jawaban dari impian untuk melampiaskan kebebasan mengemukakan pendapat (free of speech). 
Seiring dengan perkembangan Cyberspace sebagai medium komunikasi global antar subjek yang dapat berkomunikasi, memunculkan pula hak dan kewajiban dari tiap-tiap subjek. Hal tersebut membuat banyak negara yang mencoba mengatur keberadaan alam baru tersebut. Dibeberapa negara dikenal istilah Cyberlaw atau Cyberspace law. Kedua istilah tersebut, secara sekilas memiliki makna yang sama. Namun, apabila ditelaah lebih lanjut, muncul perbedaan yang berpengaruh dari penggunaan kedua istilah tersebut. Menurut Edmon Makarim, istilah yang cocok adalah Cyberspace Law karena hukum yang berlaku adalah hukum yang dilaksanakan pada medium Cyberspace, sedangkan penggunaan istilah Cyberlaw, lebih cocok digunakan untuk hukum-hukum ilmu fisika yang berkaitan dengan arus listrik dalam kawat. Hal tersebut dikaitkan dengan arti istilah cyber, yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu kawat listrik. Namun demikian, apabila ditelaah lebih lanjut, istilah Cyberspace Law juga tidak begitu tepat, karena istilah ini hanya berbicara tentang halusinasi alam virtual. Istilah yang tepat adalah Hukum Telematika, karena makna dari Telematika dikaitkan dengan Cyberspace yaitu pada hakikatnya merupakan suatu sistem elektronika yang lahir dari hasil perkembangan dan konvergensi telekomunikasi, media dan informatika itu sendiri. Hukum Telematika diartikan pula sebaggai suatu hukum yang mengembangkan konvergensi telematika yang berwujud dalam penyelenggaraan suatu sistem elektronik, baik yang terkoneksi melalui internet atau tidak. Meskipun demikian istilah yang digunakan untuk hukum yang mengatur di dunia Cyber belum seragam, karena seperti yang diuraikan oleh Ahmad M. Ramli yang lebih memilih istilah Cyberlaw atau Hukum Siber. Hal tersebut dikaitkan dengan makna Cyberlaw yang dilandasi dengan pemikiran bahwa istilah Cyber jika diidentikan dengan dunia maya akan cukup menghadapi persoalan ketika terkait dengan pembuktian dan penegakan hukum. 
Berkaitan dengan istilah Cyber, dikenal pula istilah Cybernetic, yang dikenalkan oleh Noebert Winner, pakar matematika yang mengenalkan istilah Cyberspace teory. Makna dari Cybernetic teory adalah teori yang ditujukan untuk pendekatan interdisipliner dalam uraian sistem kendali dan komunikasi dari manusia, hewan mesin dan organisasi yang mengutamakan umpan baik (feedback). Berdasarkan teori tersebut, dapat diambil maknanya yaitu dalam memahami suatu penyampaian informasi yang disampaikan dalam sutu sistem komunikasi yang baik, selayaknya harus dengan memerhatikan unpan balik (feedback) dari sistem tersebut.

 3. Ruang Lingkup Telematika 
Lingkup pengkajian Hukum Telematika dapat terbagi dua komponen. Komponen yang pertama berkaitan dengan komponen yang terkait dengan sistem, misalnya perangkat keras, perangkat lunak, prosedur, manusia dan informasi. Komponen yang kedua adalah berkaitan dengan fungsi-fungsi telekomunikasi, misalnya input, proses, output, penyimpanan, komunikasi. Kedua komponen tersebut dikenal dalam 4 komponen yaitu:  
  • Content, yaitu substansi dari data yang dapat merupakan output/input dari penyelenggaraan sistem informasi yang disampaikan kepada publik. 
  • Computing, yaitu suatu siste pengolah informasi yang berbasiskan sistem komputer yang merupakan computer network yang efisien, efektif dan legal. cComunnication,. yaitu keberadaan sistem komunikasi dari system interconnection, global interpersonal, computer network. 
  • Community, yaitu masyarakat sebagai pelaku intelektual. 

4. Perkembangan Telematika 
Di Indonesia Pada zaman dahulu, Telematika belum berkembang sangat pesat dinegara Indonesia, Indonesia termasuk dalam Negara tertinggal, tapi dengan seiring perkembangan zaman Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat, karena telah banyak bermuculan produk-produk IT yang lebih kecil, cepat dan efisien dengan format-format unik yang berbeda dan muktahir. Misalnya teknologi perakitan prosessor yang sudah bisa memfrabikasi hingga ukuran 40nm, telepon selular dengan koneksi wifi, notebook dengan ukuran lebih kecil sehingga memudahkan keleluasaan mobilitas bagi penggunanya dan sedangkan teknologi mukthir adalah teknologi automobile systems yang menggabungkan Global Positioning System (GPS) dan komunikasi nirkabel lainnya untuk mengetahui lokasi jalan, dan sekarang ini yang sedang populer juga banyak dicari dan digunakan oleh masyarakat yaitu smartphone, dan juga tablet PC. Smartphone ini merupakan telepon selular dengan system operasi didalamnya adalah android. Dengan kecanggihan smartphone ini aplikasi-aplikasi yang biasa digunakan atau hanya bisa digunakan didalam Komputer itu bisa digunakan didalam smartphone ini. Tablet pc, ini merupakan komputer portable berbentuk buku. Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain keyboard ataupun mouse komputer. Jadi pengertian Telematika sendiri lebih mengacu kepada industri yang berhubungan dengan penggunakan komputer dalam sistem telekomunikasi. Yang termasuk dalam telematika ini adalah layanan dial up ke Internet maupun semua jenis jaringan yang didasarkan pada sistem telekomunikasi untuk mengirimkan data. Internet sendiri merupakan salah satu bentuk telematika
  
5. Trend ke depan usaha Telematika

Pada kesempatan ini membahas trend ke depan dari berbagai jenis usaha di dunia telematika. Untuk melihat dengan mudah berbagai trend tersebut ada baiknya kita perhatikan model dunia usaha telematika yang digambarkan pada gambar terlampir.

Pada prinsipnya berbagai jenis usaha di dunia telematika dapat di pilah-pilah menjadi berbagai usaha yang sifatnya modular tidak terlalu tergantung satu dengan lainnya.

 
  
Beberapa servis seperti NIC servis & CA/RA/PKI servis memang merupakan servis pendukung yang sifatnya tidak terlalu profit-oriented, akan tetapi tidak bisa di pisahkan dari usaha yang didukungnya.

Secara umum model yang ingin di usulkan terlihat dalam gambara model terlampir. Model dibuat modular yang berarti entitas industri di masing-masing segmen di usahakan untuk bisa berdiri sendiri tidak harus tergantung satu sama lain. Ada lima (5) kelompok besar segmen industri jasa yang di identifikasi yaitu:

1.      Infrastruktur Telekomunikasi (biasanya resiko bisnis paling besar)
2.      Infrastruktur Internet (biasanya resiko bisnis sedang & rendah)
3.      Hosting service (biasanya resiko bisnis rendah)
4.      Transaction type service (biasanya resiko bisnis rendah).
5.      Content / knowledge producer (biasanya resiko bisnis rendah).

Ada dua (2) arah utama yang terjadi di level aplikasi yang pertama ke arah jasa yang sifatnya transaksi (biasanya disini yang berputar adalah uang & barang) yang ke dua lebih ke arah transaksi pengetahuan & informasi. Karakteristik dari kedua arah tersebut akan berbeda; sayang sekarang ini yang lebih di  gembar-gemborkan terutama e-commerce – padahal jika kita cukup pandai (dalam arti berpengetahuan banyak) maka bermain-main di k-commerce akan lebih menarik.


Ada tiga (3) hal utama yang akan menentukan kehidupan / tingkat kompetisi maupun kontrol pemerintah di jenis usaha yang dipilih, tiga (3) hal tersebut adalah:

  • Tingkat resiko bisnis.
  • Kontrol kualitas.
  • Tanggung jawab sosial (menjamin proses cross subsidi).

Pada tingkat resiko bisnis yang rendah, sebaiknya pasar di bebaskan dari proses lisensi / perijinan – kompetisi bebas diberlakukan konsekuensi-nya kontrol kualitas di lakukan sendiri oleh masyarakat; pemerintah dapat memfasilitasi transparansi kualitas entitas. Sebaliknya untuk tingkat resiko bisnis yang tinggi, proses perijinan / lisensi yang di ikuti kontrol kualitas dari pemerintah. Yang perlu diperhatikan barangkali membuat semua proses menjadi transparan ke masyarakat banyak.

Adapun contoh industri dari masing-masing segmen beserta perkiraan tingkat resiko bisnisnya dapat dilihat pada contoh di bawah ini sebagai:

  1. Infrastruktur Telekomunikasi (resiko tinggi).
    1. Jaringan tetap lokal;
    2. Jaringan tetap sambungan langsung jarak jauh;
    3. Jaringan tetap sambungan internasional;
    4. Jaringan tetap tertutup.
    5. Jaringan bergerak terestrial;
    6. Jaringan bergerak seluler;
    7. Jaringan bergerak satelit.
    8. Interkoneksi antar jaringan (wajib).
  2. Infrastruktur Internet.
    1. Warung Internet (resiko sangat rendah).
    2. Internet Service Provider (resiko sedang).
    3. Internet Network Provider (resiko sedang).
    4. Internet Telephony Service Provider (resiko sedang).
    5. Internet Exchange (wajib).
  3. Hosting service.
    1. Webhosting (resiko rendah).
    2. FTP server (resiko rendah).
    3. Mail (resiko rendah).
  4. Transaction type service.
    1. E-commerce B2C (resiko sedang).
    2. E-commerce B2B (resiko sedang).
    3. E-commerce C2C (resiko sedang).
    4. Portal (resiko sedang).
  5. Content / knowledge producer.
    1. Media online (resiko sedang).
    2. Digital library (resiko rendah).
    3. Pendidikan jarak jauh (resiko rendah).
    4. Production House (resiko sedang).
    5. Training center (resiko rendah).

Di samping beberapa segmen utama tersebut di atas ada beberapa segmen yang sifatnya sebagai penunjang dari segmen utama tersebut (biasanya resiko bisnis yang ditanggung rendah), seperti:

  1. Value Added Services (pada infrastruktur telekomunikasi)
    1. Voice mail.
    2. Call center.
    3. SMS.
    4. FAX center.
  2. Network Information Center (NIC) service:
    1. IP address.
    2. Domain name.
  3. Certificate Authority / Registration Authority / PKI service:
    1. Certificate Authority.
    2. Registration Authority.
    3. Public Key Infrastructure.
Tingkat resiko usaha dapat diperkirakan dari tingkat investasi masing-masing usaha tersebut. Pada tingkat yang rendah biasanya tingkat investasi yang perlu di letakan berkisar antara Rp. 50-100 juta-an. Pada tingkat yang sedang bisa dimulai dari Rp. 200-an juta. Sedang pada tingkat resiko yang tinggi kita melihat investasi dalam orde beberapa puluh milyar bahkan trilyun. Tentunya pada usaha yang tingkat resiko-nya rendah biasanya pemain yang akan bermain di situ akan sangat banyak sekali & biasanya tidak memerlukan ijin yang ketat, misalnya warung internet.
Teknologi hanyalah alat bantu semata, kemenangan hanya bisa diperoleh dari keberhasilan dalam membentuk massa yang real di masyarakat. Dalam dunia informasi yang biasanya massa-nya berpendidikan, proses community building agak lebih pelik dari pada dunia biasa. Konsep penggalangan massa seperti para partai politik di dunia nyata tidak mungkin dilakukan di dunia maya. Interaksi dua arah berbentuk diskusi, di talkshow, di kolom-kolom media di tumpu oleh kemampuan leadership (kepemimpinan), total customer satisfaction dan komitmen kepada masyarakat berpengetahuan akan menjadi kunci keberhasilan dalam melibatkan masyarakat dalam kebersamaan. Fungsi fasilitator sangat erat di dunia maya sangat berbeda dengan dunia nyata yang lebih mementingkan struktur dan komando.

Referensi :
Pengantar Hukum Telematika, Edmon Makarim , S. Kom, SH., LLM
Cyberlaw & HAKI, Prof. Dr. Ahmad M.Ramli, SH, MH
 

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Rancangan Penelitian

Sunday, May 27, 2012

Banyak definisi yang dikemukakan berkenaan dengan rancangan penelitian atau research design, namun apa pun bunyi definisi tersebut, rancangan penelitian pada dasarnya merupakan “blueprint” yang menjelaskan setiap prosedur penelitian mulai dari tujuan penelitian sampai dengan analisis data. Komponen yang umumnya teradap dalam rancangan penelitian adalah : 
1. Tujuan penelitian 
2. Jenis penelitian yang akan digunakan 
3. Unit analisis atau populasi penelitian 
4. Rentang waktu dan tempat penelitian dilakukan 
5. Teknik pengambilan sampel 
6. Teknik pengumpulan data 
7. Definisi operasional variabel penelitian 
8. Pengukuran 
9. Teknik analisis data. 
10. Instrumen pencarian data (mis. Kuesioner) 

Pertama : Tujuan Penelitian 
Yang dimaksud dengan tujuan penelitian adalah hasil akhir penelitian itu sendiri. Fungsi tujuan penelitian, di samping untuk mengarahkan proses penelitian, juga dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan penelitian. Tujuan penelitian dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan penelitian (research questions) dan atau juga hipotesis penelitian 

Kedua : Jenis penelitian 
yang akan diaplikasikan Beberapa jenis penelitian yang banyak dipakai dalam ilmu administrasi atau manajemen adalah penelitian deskriptif, korelasional, eksperimental. Penelitian deskriptif bertujuan memberikan gambaran fenomena yang diteliti secara apa adanya, namun lengkap dan rinci. Satu contoh yang banyak dari penelitian deskriptif adalah penilaian sikap atau pendapat dari individual, organisasi, peristiwa, atau prosedur kerja. Beberapa contoh pertanyaan penelitian yang dicoba ditemukan jawabannya melalui penelitian deskriptif adalah sebagi berikut : 
• Bagaimana manajer menghabiskan waktu kerjanya? 
• Bagaimana sikap pegawai terhadap jadwal kerja “flex-time”? 
• Bagaimana organisasi melakukan proses seleksi pegawai ? 
• Bagaimana koordinasi kerja antar bagian dalam organisasi? 

Ketiga : Unit analisis atau populasi penelitian Individual. 
Misalnya ingin mengetahui kepuasan pegawai, maka unit analisisnya adalah individu-individu pegawai. Kelompok. Misalnya ingin mengetahui kinerja antar departemen atau gugus kendali mutu, maka unit analisisnya adalah kelompok. Organisasi. Misalnya ingin mengukur kualitas pelayanan kantor X, maka unit analisisnya adalah organisasi. Benda, Misalnya menilai kualitas susu bubuk untuk bayi, maka unit analisis- nya adalah produk, berupa susu bayi. 

 Keempat : Rentang waktu penelitian 
1. One shot or Cross section studies, data dikumpulkan hanya sekali. 
2. Longitudinal studies, data dikumpulkan dalam beberapa periode waktu tertentu. Misalnya untuk meneliti disiplin pegawai, peneliti mengamati perilaku pegawai selama enam bulan 

Kelima : Teknik pengambilan sampel 
Secara umum ada dua teknik, yaitu sampling probabilistik dan nonproba- bilistik, atau acak dan non-acak. Dalam sampel acak antara lain terdapat simple random sampling, stratified random sampling, area sampling, cluster sampling, systematic sampling. Dalam nonprobabilistic sampling antara lain terdapat accidental sampling, convienience sampling, snow-ball sampling, purposive sampling. Kesemua teknik tersebut dibahas secara lebih mendalam dalam teknik sampling. 

Keenam : Teknik Pengumpulan data 
Kita mengenal beberapa teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, kuesioner, observasi, dan studi dokumentasi. Sebuah penelitian bisa hanya menggantungkan pada satu cara pengumpulan data, tetapi bisa juga mengkombinasikannya. Misalnya, untuk mencari data dari variable motivasi kerja menggunakan kuesioner, sedangkan untuk mencari data pendapatan, gaji, atau upah, menggunakan teknik observasi. 

Ketujuh : Definisi operasional variabel penelitian 
Bagi penelitian kuantitatif, langkah ini mutlak dilakukan. Yang dimaksud dengan definisi operasional variabel adalah upaya untuk mengurangi keabstrakan konsep atau variabel penelitian, sehingga bisa dilakukan pengukuran. Beberapa peneliti menggunakan istilah indikator. Misalnya, untuk mengukur disiplin pegawai, maka dihitung frekuensi ketepatan masuk kerja, kepatuhan pada peraturan, dlsb. Untuk mengetahui produktivitas, dihitung perbandingan antara hasil herja dengan waktu kerja. 

Kedelapan : Pengukuran variabel penelitian 
Jenis skala pengukuran untuk setiap variabel penelitian perlu diketahui dengan benar. Hal ini berguna untuk menetapkan rumus atau perhitungan- perhitungan statistik. Misalnya, untuk variabel yang berskala nominal tidak mungkin dihitung rata-ratanya. Skala pengukuran yang ada adalah nominal, ordinal, interval, dan rasio. 

Kesembilan : Teknik analisis data 
Sebelum data dianalisis, diolah terlebih dahulu. Maka dikenal proses editing, coding, master table, dan lain-lainnya. Analisis data mencakup kegiatan mengukur reliabilitas dan validitas, mean, deviasi standar, korelasi, distribusi frekuensi, uji hipotesis, dan lain sebagainya. 

Kesepuluh : Instrumen Pencarian Data 
Ada beberapa alat yang dikenal sebagai alat pengambil data dalam penelitian sosial / bisnis. Alat-alat tersebut mencakup wawancara, kuesioner atau angket, observasi, dan studi dokumentasi. Metode Penelitian : 
a. Jenis Penelitian : Karena tujuan penelitian adalah ingin mengetahui hubungan-hubungan di antara beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen, maka jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian korelasional. 
b. Unit Analisis : Karena peneliti tertarik pada tingkatan komitmen pada organisasi para pegawai, maka unit analisis proyek penelitian ini adalah setiap individu pegawai. 
c. Populasi dan sampel : Populasi penelitian adalah seluruh pegawai yang bekerja di organisasi “X”. Karena penelitiannya masih bersifat eksploratif, maka sampel ditarik dengan teknik convenience sampling. 
d. Teknik Pengambilan data : Data diambil dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner), disebarkan di kalangan pegawai di organisasi “X”. 

 Referensi : 

Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Diantara Kalian

Zi’ itulah nama panggilan untukku oleh teman-temanku, nama asliku sebenernya Dzie Firmansyah. Sekarang aku menempuh pendidikan di salah satu SMA swasta di Jakarta. “hey Zi, kamu udah ngerjain PR?”, ujar teman baikku bila ada PR. Lala namanya, dia teman baikku sejak masih duduk di kelas satu SMA. “udah laahh.., emangnya kamu, belom terus”, balasku. “mana sini liat dong Zi.., gue beloman neeh, mana fisika lagi.., gue kan rada-rada sama ini pelajaran”,ujarnya. Yaa begitulah si Lala, sekalinya rajin, rajin bener. Sekalinya nggak ya beginilah dia. Saat istirahat aku dan Lala lebih sering di kelas sambil ngobrol dibanding pergi kekantin untuk beli sekedar makanan ringan. “La, lo tau nggak ini nomer siapa”, sapaku sambil menyodorkan hpku. “coba sini gue liat dulu.., emm gue nggak tau Zi, emangnya kenapa? ”,balasnya. “nggak kenapa-kenapa sih, Cuma semalem itu dia misedcall gue terus, eh pas gue telpon balik malah nggak diangkat, mana dia sms puisi-puisi gitu lagi, gue kan jadi penasaran”,ujarku. “puisi apaan? Cinta yak? Hayooo…”,balasnya dengan nada meledek. “eett.., mau tauuu aja.. hahaha”,ceplosku.  

Kkkrriiiinngg…!!, bel pulang sekolahpun berbunyi. Seperti biasanya, aku dan lala tidak langsung pulang, karena kami tau kalo parkiran pasti penuh, banyak anak yang keluar. Jadi kami bedua sering ngobrol di kantin sekolah sambil menunggu parkiran sepi. “La, gue pinjem hp lo dong, mau mainan nih, bĂȘte gue..”, ujarku. Padahal aku nggak mainan, aku masih penasaran dengan unknown number yang bikin aku penasaran. Dengan aku masukkan nomer itu dan mencoba menghubunginya, dan ternyata nomer itu ada di kontak lala. “Naaahh.., ini ada nomer yang gue tanyain ke lo tadi, kok lo bilang nggak ada sih La”, ujarku dengan agak senang karena sudah ketemu nomer misterius itu. “Oohh, itu yaa? Maaf deh Zi, gue cuma jalanin amanat temen baik gue aja kok, sory yee..”, balasnya. 

Namanya Risa, dia adalah teman deketnya Lala, yaa bisa dibilang sudah seperti saudara, karena dari dari sekolah dasar mereka selalu bersama sampe sekarang ini. Aku dan Risa emang nggak terlalu deket, tapi hari ini aku coba untuk mencoba memulai percakapan. “Ris, Risa..”, teriakku saat ketemu dia di lorong sekolah. “ada apa Zi? Tumben?”, jawabnya. “ng..nggak, Cuma mau bareng lo aja, nggak apa-apa kan? Hehe”, balasku dengan agak bercanda. “eh Zi, duluan yaa, gue udah ditunggu Andi di parkiran”, ujarnya sambil agak terburu-buru. 

Namanya Andi, orang yang bisa dibilang tenar di sekolah, beda sama aku yang banyak orang bilang kalo aku ini cupu, kuper atau apalah sebutan mereka buat aku. Andi dan Risa, mereka sudah berpacaran sejak kami kelas satu SMA. Walaupun mereka sering putus-nyambung. 

Sesampainya dirumah, aku langsung sms Lala untuk menanyakan tentang Risa. “La, gue nanya dong?”. Taklama kemudian Lala bales, ”nanya aja, emang mau nanya apaan?”. “gini La, langsung to the point aja yak.., Risa suka sama gue yak?, soalnya waktu kita kelas satu dulu, setiap gue lewat kelasnya, pasti gue disorakin Kalo Risa suka sama gue, dan waktu pas dikantin Risa tuh curi-curi pandang terus ke gue, apa jangan-jangan guenya yang ke GR-an ya?”,balasku dengan banyak pertanyaan. Taklama kemudian Lala membalas lagi, “Gini Zi, karna lo temen baik gue dari kelas satu, gue kasih tau, tapi lo jangan bilang siapa-siapa, termasuk sama Risa. Iya emang dari kita kelas satu dulu, Risa tuh suka sama lo, dia cerita kalo lo itu beda sama cowo-cowo laen. Emangya lo nggak tau?”. “ya nggak lah La, gue kira anak-anak tu cuma bercanda doang, yaudah makasi ya sahabatku yang baik hati dan tidak sombong.. hehe”, balasku dengan agak sedikit candaan. 

Dua bulan kemudian aku dengar dari Lala kalau Risa dengan Andi sedang marahan, entah apa yang membuat mereka berdua bertengkar. Sampai pada saat pulang sekolah, aku melihat Andi dan Risa sedang adu mulut, dan Andi pun meninggalkan Risa begitu saja sehingga Risa pun menangis. Aku coba untuk menghampiri Risa, berharap aku bisa menghiburnya. “Ris, lo kenapa?, kok sedih gitu? Gue anterin pulang yaa..”, ujarku dengan nada agak pelan. “Nggak..nggak apa-apa kok Zi, beneran Zi?, nggak ngerepotin lo nih?”, balasnya. “nggak..tenang aja, yaudah ayo naik”. 

Selama satu minggu lebih Andi dan Risa tidak saling bicara. Dan selama itu juga aku mengantarkan Risa pulang dan kita saling dekat. Sesampainya dirumah Risa, “Zi, makasi banyak yaa.., udah nganterin aku pulang terus”, ujarnya sambil turun dari motorku. “nggak apa-apa, tenang aja..”, jawabku. “Oiya Zi, sebagai tanda terima kasih aku, gimana kalo nanti malem aku traktir makan sekalian aku mau ngomong sesuatu ke lo..”, ajaknya. “emm, beneran nih? Yudah, nanti aku kerumah kamu sekitar jam 7 an aja ya, oke gue balik dulu yaa”, balasku. 

Malam harinya aku datang kerumah Risa tanpa aku memberitahu Lala terlebih dahulu. “Permisi..permisi..” sapaku beberapa kali di depan rumah Risa. Tak lama kemudian Risa pun keluar dan mengajakku makan di luar. Selama makan malam tersebut Risa cerita banyak tentang dirinya, dan begitupun sebaliknya hingga kita lupa dengan waktu yang semakin malam. Akhirnya aku mengantar Risa pulang. Sesampainya dirumah Risa, “Ris, katanya ada yang mau diomongin? Emang penting banget ya?, tanyaku. “emm sebenernya aku udah mau bilang ini ke lo sejak dulu”, jawabnya. “bilang apaan?”, Tanyaku. “emm.., gini Zi, emm.., gue..gue suka sama lo”, jawabnya dengan agak malu. Aku kaget saat dia bilang gitu, nggak percaya dia bilang kayak gitu. “Sa, lo bercanda ya?”, ujarku. “nggak, aku serius bilang gini.”,jawabnya. “emm.., gini ya Sa, sebenernya gue juga suka sama lo. Tapi, gue ngak bisa, karna lo itu punya pacar Saa.. dan gue tau, lo sebenernya masih sayang sama dia dan begitupun sebaliknya. Dan gue nggak mau ngorbanin perasaan orang demi perasaan gue sendiri.. jadi, maaf ya Saa.. aku nggak bisa.., gue mohon lo bisa ngerti..”,jawabku dengan nada lembut. 

Keesokan harinya saat disekolah aku mencoba bicara dengan Andi, aku memberitahu tentang perasaan Risa kepadanya. Aku mencoba meyakini Andi agar mau baikan dengan Risa. Karena aku tau diantara keduanya masih ada hati kecil yang saling sayang anatara dua insan manusia yang tidak dapat dibohongi. Dan ketika mereka membaik aku berjanji akan mencoba menjaga jarak antara aku dengan Risa agar tidak timbul perasaan yang salah. Dan hubungan aku dengan Risa cukup hanya sebatas teman sekolah.
Selengkapnya...



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer